Marketing Case Study
Branding B2B in Software HR Study Case
Selain mengenai travelling, blog ini akan memuat juga beberapa analisa mengenai Marketing, IT, ataupun personality.
Selama ini ada konsep bahwa branding hanyalah untuk barang-konsumsi. Hal ini karena pembelian barang B2B sepenuhnya rasional yang mengandalkan rasional bukan mengandalkan citra seperti halnya B2C. Namun apakah benar seperti itu?
Pertanyaan ini muncul ketika saya melihat gambar dibawah ini pada Mc-Graw Hill Magazine. (iklan ini sangat terkenal karena dianggap sebagai iklan nomor satu sepanjang masa Busines Marketing ditahun 1999)
Tulisan yang kecil:
"I don’t know who you are"
"I don’t know your company"
"I don’t know your company product"
"I don’t know what your company stands for"
"I don’t know your company’s customer"
"I don’t know your company’s record"
"I don’t know your company’s reputation"
"Now ~ what was it you wanted to sell me?"
MORAL: Sales start before your salesman calls with bussiness publication advertising.
Gambar ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman saya ketika semasa di Astra. Perusahaan kami didatangi oleh dua orang tim marketing dari suatu perusahaan A yang menawarkan produknya perangkat lunak di HR.
Semua pertanyaan yang terdapat di gambar tersebut muncul secara sekaligus di pikiran saya. Walaupun saya diberi tugas untuk menggali kemungkinan kerjasama dengan perusahan A tersebut, sejujurnya saya merasa skeptis dengan perusahaan A tersebut.
Why? Bukan hanya karena saya tidak pernah melihat bussiness publication advertising dari perusahaan tersebut. Namun juga karena saya sama sekali tidak pernah perusahaan A tersebut dalam:
- Humas (berita IT mengenai perusahaan A)
- Pameran IT
- Dari mulut ke mulut (belum pernah saya mendengar mengenai perusahaan tersebut, lain halnya dengan perusahaan lokal seperti Jatis, Lintasarta, dll yang sudah terkenal)
Walaupun selama presentasi tersebut, Perusahaan A berusaha menjelaskan mengenai perusahaan A tersebut, namun sejujurnya karena sumber informasi saya hanya berasal dari perusahaan A tersebut, saya merasa melakukan kerjasama dengan perusahaan A tersebut mengandung resiko yang tidak dapat dimanage oleh saya.
Ternyata ketika saya mencoba mengevaluasi kembali tindakan saya tersebut, saya menemukan sesuatu fakta yang menarik dalam survei McKinsey & Company. Survei menuliskan bahwa kalau dalam B2C, branding digunakan untuk manfaat citra (tujuan nomor 1, 40%), maka dalam B2B, branding digunakan untuk pengurangan resiko di tingkat klien (tujuan nomor 1, 45%).
Jadi kesimpulan saya adalah branding bagi produk B2B adalah penting. Terutama untuk pengurangan resiko bagi klien. Tidak akan ada yang akan menyalahkan saya (kecuali mungkin orang Finance) bila saya memilih menggunakan produk Microsoft, IBM, Oracle, ataupun IBM karena brand mereka merupakan jaminan mutu. Lain halnya bila saya memutuskan untuk memakai produk perusahaan A yang belum jelas mutunya. Resiko terlalu besar untuk dapat saya kelola.
Tulisan ini bukan untuk memburukkan perusahaan IT lokal, namun dengan harapan untuk menyadarkan bahwa branding bagi B2B adalah penting. Branding tidak harus dengan cara yang mahal.